Kupu-kupu,
sayapnya cantik nan indah. Warna terang padanya menandakan kegembiraan,
kedatangannya dinanti banyak orang saking langkanya, hinggap pada bunga-bunga
harum nan indah pula. Kupu-kupu banyak mengajarkan seseorang arti kebahagiaan.
Guru,
sepanjang waktu pasti akan di kenang. Sebuah lagu waktu itu mengingatkan kita
tentang betapa seorang guru dirindui kedatangannya, “Kugendong tas merahku di
pundak, selamat pagi semua kunantikan dirimu didepan kelasku menantikan kami,
GURU-ku tersayang GURU tercinta tanpamu apa jadinya aku….” Begitulah bunyi
lirik-lirik betapa seorang guru dirindukan.
Pahlawan
itu bernama guru, tanpa tanda jasa adalah julukannya. Guru sepanjang waktu, tetap
dikenang oleh siapapun.
Tentang
uang bukan tujuan dari seorang guru, jabatan hingga tahta bukan tujuan utama
seorang guru, melainkan tujuan mulia untuk mencerdaskan setiap orang untuk
sebuah perubahan. Guru, terima kasih.
Guru
sepanjang waktu, begitulah termaktub dalam buku karangan Solikhin Abu Izzuddin.
Lembaran-lembaran menjadi saksi bisu betapa guru berjuang untuk
murid-muridnya, tanggung jawab dipikulnya untuk memberantas kebodohan dari
dalam diri setiap insan, tak pernah terfikirkan untuk merasa malas dalam
mengejar tujuan mulianya. Setiap goresan kapur putih di atas papan tulis
menandakan bahwa dirinya bersemangat untuk hari itu.
Bulan
Agustus 1945 menjadi saksi besar bagi sejarah dunia, Jepang mengalami dua
kegagalan terbesar, mundur dari menjajah Nusantara lalu datang rentetan dua bom
atom dari Sekutu, saat itu Jepang sangat terpuruk dimata dunia. Namun, seorang
pemimpin dengan tegas dan lugas mengatakan “Berapa banyak GURU tersisa di
negeri ini, kumpulkan!”. Kehancuran bukan sebuah halangan untuk terus maju
kedepan, pikiran pertama kali terbesit dalam sanubarinya bukan bagaimana, bukan
kenapa, ataupun mengapa. Otak cemerlang itu langsung memberikan sinyal untuk
mencari seorang guru. Kenapa? Jangan tanya kenapa, lihatlah Jepang sekarang,
betapa majunya dia sekarang. Berkat seorang guru dalam membimbing, mengasuh
bahkan mendidik hingga menjadi sebuah keberhasilan besar buat bangsa dan
negaranya.
Mari
kita lihat lagi, seorang guru rela berjalan kaki menyusuri hutan belantara
untuk sampai ke tempat pengabdiannya, gajinya tak seberapa namun jasanya melewati batas seberapa. Pengabdiannya tak terhitung, memberi tak ingin
meminta, mengajari tanpa ingin di puji, mencerdaskan tanpa ingin di sanjung.
Menjadi
seorang guru harus ikhlas dalam merubah keadaan, tanpa pamrih sangatlah luar
biasa. “Tanpamu apa jadinya aku” betul dengan lirik itu, tanpa guru kita ini
bukan siapa-siapa, tanpa guru kita tidak akan mengenal betapa pentingnya ikhlas
dalam berjuang, tanpa guru kita akan terombang-ambing di atas pandangan kosong
nan tajam.
Beban
seorang guru di pelupuk mata orang lain sangatlah berat. Namun, di dalam
sanubari seorang guru itu adalah kewajiban yang harus dijalankan. Ringan ketika
ikhlas membersamainya. Sepeda dikayuhnya ke tengah kota untuk mengajari,
dia bukan dari latar belakang orang berada tapi isi kepala dan hatinya melebihi
dari orang kaya.
Kebesaran
hatinya sangat patut untuk di puji, ketika suara lantang itu menyebutkan
kalimat-kalimat nan penuh makna, bergema suaranya ketika menjelaskan huruf ABC,
bergetar matanya ketika melihat mereka sudah bisa melafalkan dari ajaran
seorang guru.
Kedatangannya
dinanti tapi kepergiannya menjadi sebuah kesedihan terberat.
Seorang guru tak akan tergantikan dengan sosok apapun karena dirinya istimewa bagi
orang lain.
Pelopor
kebaikan seperti guru harus diperhatikan keadaannya. Dirinya pantang
untuk meminta namun selalu memberi. Setiap ilmu sangat berarti baginya, memberi
kecerdasan bukanlah hal mudah. Mengajari bukan hal mudah, lalu mengapa kita
lihat keadaan mereka sangat tidak layak dalam berkehidupan, tidakkah sebuah
bangsa mampu berdiri tegak tanpa adanya pendidik hebat seperti seorang guru.
Hingga
hari ini, guru masih menjadi sosok penting dalam keberlangsungan hidup sebuah
bangsa dan negara. Sosoknya menjadi warna kehidupan terhadap setiap orang.
Maka, manfaatkan selagi masih ada dan jagalah selama masih bersama.
Terima
kasih tak terhingga, tak terhingga terima kasih dihaturkan kepada sang pelopor
perubahan.
GURU…
Pena : Fitra Ramadhan

Masyaallah
BalasHapusMasya Allah
Hapus