Kupu-kupu, sayapnya cantik nan indah. Warna terang padanya menandakan kegembiraan, kedatangannya dinanti banyak orang saking langkanya, hinggap pada bunga-bunga harum nan indah pula. Kupu-kupu banyak mengajarkan seseorang arti kebahagiaan. Guru, sepanjang waktu pasti akan di kenang. Sebuah lagu waktu itu mengingatkan kita tentang betapa seorang guru dirindui kedatangannya, “Kugendong tas merahku di pundak, selamat pagi semua kunantikan dirimu didepan kelasku menantikan kami, GURU-ku tersayang GURU tercinta tanpamu apa jadinya aku….” Begitulah bunyi lirik-lirik betapa seorang guru dirindukan. Pahlawan itu bernama guru, tanpa tanda jasa adalah julukannya. Guru sepanjang waktu, tetap dikenang oleh siapapun. Tentang uang bukan tujuan dari seorang guru, jabatan hingga tahta bukan tujuan utama seorang guru, melainkan tujuan mulia untuk mencerdaskan setiap orang untuk sebuah perubahan. Guru, terima kasih. Guru sepanjang waktu, begitulah termaktub dalam buku karangan Solikhin Abu...
Bumi masih memiliki pijakan, di mana setiap pijakan ada ujian di dalamnya. Keberanian menjadi titik penting untuk menopang setiap pijakan. Aku berharap untuk tetap tenang terhadap diriku yang masih menjadi penakut ketika melangkah ke depan dan menaiki anak tangga. Teringat, nasehat datang untuk menenangkan diriku pada sebuah pilihan. Dan, inilah pilihanku.... *** Beradaptasi bukan sesuatu yang mudah, aku hidup di kota Makassar selama 24 tahun. Hari ini aku dihadapkan dengan pilihan yang sulit untuk aku jelaskan kepada semua. Sebuah pengalaman akan membentang besar di hadapanku untuk aku arungi bersama di lautan yang penuh dengan tanda tanya. Kota Makassar yang aku cintai dan menjadi tempat naunganku selama ini, pada waktu yang ditentukan aku akan berpisah dengannya. Pilihan yang sangat berat untuk aku putuskan saat ini. Sebuah pemberitahuan terdengar di telingaku dan aku merenung sejenak. Apakah aku harus bertahan atau keluar dan menemukan jati diriku? *** Kota Medan, draft itu menampa...