Bumi masih memiliki pijakan, di mana setiap pijakan ada ujian di dalamnya. Keberanian menjadi titik penting untuk menopang setiap pijakan. Aku berharap untuk tetap tenang terhadap diriku yang masih menjadi penakut ketika melangkah ke depan dan menaiki anak tangga. Teringat, nasehat datang untuk menenangkan diriku pada sebuah pilihan. Dan, inilah pilihanku....
***
Beradaptasi bukan sesuatu yang mudah, aku hidup di kota Makassar selama 24 tahun. Hari ini aku dihadapkan dengan pilihan yang sulit untuk aku jelaskan kepada semua. Sebuah pengalaman akan membentang besar di hadapanku untuk aku arungi bersama di lautan yang penuh dengan tanda tanya. Kota Makassar yang aku cintai dan menjadi tempat naunganku selama ini, pada waktu yang ditentukan aku akan berpisah dengannya.
Pilihan yang sangat berat untuk aku putuskan saat ini. Sebuah pemberitahuan terdengar di telingaku dan aku merenung sejenak. Apakah aku harus bertahan atau keluar dan menemukan jati diriku?
***
Kota Medan, draft itu menampakkan diri ketika pemberitahuan datang menghampiri. Aku tertekun sejenak, Medan ya...Perasaanku belum terlalu gundah gulana ketika mendengar Kota Medan. Aku mulai gelisah ketika pesan dari Rektor mengirimiku sebuah pesan untuk mengabdikan diri di Kota Makassar. Aku terdiam dan memikirkan sejenak.
Hingga pada akhirnya, aku menemukan celah dalam diriku. Banyak whist list yang harus aku capai dalam hidupku, terutama menemukan jati diri yang sebenarnya. Aku harus mengarungi lautan lebih luas lagi untuk mencapai tujuan dan impian dalam diriku.
***
Kata teman "Pilih yang kamu sedikit penyesalan di dalamnya" pada saat itu pun aku menetapkan diriku untuk memilih Kota Medan. Dengan tujuan, aku harus mengarungi lautan lebih jauh lagi.
Hingga pada akhirnya, semua akan terbiasa dengan pilihan yang berat untuk menuju kehidupan yang lebih menantang lagi.
Komentar
Posting Komentar